Minggu, 02 Oktober 2016

KUIS 4 PENGANTAR OSEANOGRAFI (Pasang Surut)

Nama   : Khalimah
NPM     : E1I015071
Prodi    : Ilmu Kelautan
Kelas    : B
Dosen  : Yar Johan, S.Pi.,M.S

PENGERTIAN PASANG SURUT

Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.

Pasang surut merupakan Suatu fenomena yang terjadi di laut karena adanya pergerakan naik atau turunnya posisi permukaan perairan laut secara berkala yang disebabkan oleh gaya gravitasi dan gaya tarik menarik benda astronomi oleh matahari.

PENYEBAB TERJADINYA PASANG SURUT 

Pasang surut merupakan hasil dari gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah pergerakan atau dorongan ke arah luar pusat rotasi bumi. Pengaruh gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut air laut, karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk volume perairan dan bentuk dasar samudera.

Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari sehingga menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan area orbit bulan dan matahari.
Pasang surut bulan purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam posisi sejajar. Pada saat itu akan terjadi air pasang yang sangat tinggi dan air surut yang sangat rendah. Pasang surut bulan purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang surut perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan air pasang naik yang rendah dan air surut yang tinggi. Pasang laut perbani ini terjadi pada saat bulan seperempat dan tiga-perempat.

Pengetahuan tentang pasang surut adalah hal penting dalam transportasi perairan, aktivitas di pelabuhan, pembangunan di daerah pesisir, dan lain-lain, karena sifat pasang surut air laut yang periodik, sehingga dapat diramalkan. Untuk dapat meramalkan pasang laut diperlukan data amplitudo dan beda fase dari masing-masing komponen pembangkit pasang surut air laut. Seperti yang telah disebutkan, komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian karena interaksinya dengan bentuk morfologi pantai, superposisi antar komponen pasang laut utama, dan faktor-faktor lainnya akan mengakibatkan terbentuknya komponen-komponen pasang surut yang baru.

Pasang Surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu:
Pasang Surut Atmosfer (Atmospheric Tide)
Pasang Surut Laut (Oceanic Tide)
Pasang Surut Bumi Padat (Tide of the Solid Earth).


TIPE PASANG SURUT

Perairan laut memberikan respon yang berbeda terhadap gaya pembangkit pasang surut, sehingga terjadi tipe pasang surut yang berlainan di sepanjang pesisir. Terdapat tiga tipe pasang surut yang dapat diketahui, yaitu:
Pasang Surut Diurnal, yang terjadi bila dalam sehari terjadi satu satu kali pasang dan satu kali surut dan biasa terjadi di laut sekitar khatulistiwa.
Pasang Surut Semi Diurnal,  yakni bila dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang hampir sama tingginya.
Pasang Surut Campuran, yang adalah gabungan dari Diurnal dan Semi Diurnal, bila bulan melintasi khatulistiwa (deklinasi kecil), pasang surut menjadi Semi Diurnal, dan jika deklinasi bulan mendekati maksimum, terbentuklah pasang surut Diurnal.

ARUS PASANG SURUT

Gerakan air secara vertikal yang berhubungan dengan peristiwa naik dan turunnya pasang surut, diiringi oleh pergerakan air secara horizontal yang disebut dengan arus pasang surut.  Permukaan air laut selalu berubah-ubah setiap saat karena adanya gerakan pasang surut, hal ini juga terjadi pada wilyah-wilayah yang lebih kecil misalnya teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasang surut (Tidal Current).  Arus pasang surut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan mengalami perubahan, karena berkurangnya kedalaman.
Arus yang terjadi di laut bagian teluk dan laguna dikarenakan massa air yang mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah, dan itu disebabkan oleh pasang surut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan teluk yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut. Pada waktu gelombang pasang surut merambat memasuki perairan dangkal seperti muara sungai atau teluk, maka massa air di kawasan ini akan bereaksi terhadap pergerakan dari perairan lepas.

Pasang Surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :
Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide) merupakan pasang surut yang hanya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, jenis ini terdapat di Selat Karimata.
Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide) merupakan pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama dalam satu hari, ini terjadi di Selat Malaka hingga Laut  Andaman.
Pasang Surut Campuran Dominan Harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal) merupakan pasang surut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tapi terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam hal tinggi dan waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
Pasang Surut Campuran Dominan Harian Ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal)m erupakan pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang berbeda, ini terjadi di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur.

ALAT UKUR PASANG SURUT

1)      Tide Staff. Papan dalam skala meter atau centi meter yang biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.

2)      Tide Gauge. Sebuah alat/perangkat untuk mengukur perubahan permukaan laut secara mekanik dan otomatis dengan menggunakan sensor.  Tide gauge juga memiliki dua jenis yakni Floating Tide Gauge dan Pressure Tide Gauge.


3)      Satelit. Sistem yang menggunakan pemancar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta perhitungan waktu yang berakurasi tinggi.


Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut Air Laut


1. Berdasarkan teori keseimbangan, penyebab pasang surut air laut adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari.

2. Berdasarkan teori dinamis, penyebab pasang surut air laut adalah kedalaman dan luar perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis) dan gesekan dasar.

3. Faktor lokal lainnya penyebab terjadinya pasang surut air laut adalah topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan lain sebagainya. (Wyrtki, 1961).



DAFTAR PUSTAKA

Supangat, Agus. (2000) Pengantar Oseanografi, ITB : Bandung

Triatmodjo, Bambang. 1996. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta
http://www.duniapendidikan.net/2016/01/faktor-penyebab-proses-terjadinya-pasang-surut-air-laut-lengkap.html
http://www.duniapendidikan.net/2016/01/faktor-penyebab-proses-terjadinya-pasang-surut-air-laut-lengkap.html
http://osfeanografifisika.blogspot.co.id/2012/12/pramodul.html


Sabtu, 01 Oktober 2016

KUIS 4 Dasar-Dasar Penginderaan Jauh

Nama   : Khalimah
NPM     : E1I015071
Prodi    : Ilmu Kelautan
Kelas    : B
Dosen  : Yar Johan, S.Pi.,M.Si




SEJARAH PENGINDERAAN JAUH

Teknik pengindraan jauh (inderaja) sebenarnya sudah lama di gunakan, yaitu setelah di temukanya kamera. Percobaan pemotretan dari udara pernah di lakukan oleh seniman foto asal Prancis bernama Gaspard Felix Tournachon atau lebih di kenal dengan panggilan Felix Nadar (1858) memotret daerah Bievre, Prancis dari ketinggian 80 meter dengan bantuan balon udara, hasil pemotretan ternyata dapat di gunakan oleh ahli tata ruang kota untuk membuat peta penggunaan lahan dan peta morfologi daerah Bievre. Setelah eksperimen tersebut berhasil maka pemotretan dengan menggunakan wahana balon semakin berkembang, di Amerika foto udara pertama kali di buat oleh James Wallace Black tahun 1860, dengan sebuah balon dengan ketinggian 365 meter di atas kota Boston

Pemotretan udara juga pernah menggunakan wahan layang-layang yang pernah di lakukan oleh ED Archibalg (inggris) tahun1882 dengan tujuan untuk memperoleh data meteorologi. Selanjutnya tanggal 18 April 1906 pemotretan dengan layang-layang di lakukan oleh G.R. Lawrence dari Amerika Serikat untuk memotret daerah San Fransisco setelah kejadian bencana gempa bumi besar dan kebakaran yang melanda daerah tersebut.
Pada tahun 1903 pesawat udara baru di temukan dan uji coba terbang berhasil di lakukan, akan tetapi pemotretan dengan wahana pesawat terbang baru di mulai pada tahun 1909 di atas Centovelli, Italia, dengan pilotnya bernama Wilbur Wright, pemanfaatan citra inderaja banyak di gunakan juga selama perang dunia 1 maupun perang dunia ke II, saat itu penggunaan teknik inderaja sangat berperan dalam menentukan keberhasilan suatu misi pertempuran. Era perkembangan inderaja yang spektakuler mulai terjadi saat di temukanya roket yang membawa satelit ke ruang angkasa. Hal ini di awali dengan peluncuran satelit TIROS ( Television and Infared Observation Satellite) pada tahun 1960. Yang merupakan satelit tak berawak khusus untuk pengembangan satelit cuaca. Pada perkembangan selanjutnya di luncurkan satelit berawak seperti Merkury, Gemini, dan Apollo,
Teknologi inderaja dan pemanfaatanya terus berkembang dengan pesat. Jika dahulu sensor yang di gunakan hanya kamera maka sekarang sudah banyak jenis sensor lain seperti Scanner, Magnetometer dan Sonar. Dalm disiplin ilmu geografi dan ilmu-ilmu kebumian yang lain, penggunaan tekik inderaja mejadi suatu kebutuhan. Hal ini karena citra inderaja dapat menyajikan gambaran permukaan bumi sacara nyata sehingga semua objek dan fenomena yang ada di pemukaan bumi terlihat dengan baik namun di batasi oleh ketajaman citra yang di gunakan. Keadaan ini sangat membantu sekali bagi seorang ahli geografi di dalam mempelajari objek kajian geografi seperti pola pemukiman, penggunaan lahan, hidrografi, geologi dan geomorfologi. Bahkan kajian tentang iklim di atas permukaan bumi.
JENIS-JENIS CITRA DAN REVOLUSINYA
Kegiatan pengindraan jauh memberikan  produk atau hasil berupa keluaran atau citra. Citra adalah gambaran suatu objek yang tampak pada cermin melalui lensa kamera  atau hasil pengindraan yang telah dicetak
Citra dapat  dibedakan  menjadi dua, yaitu citra foto dan citra nonfoto.

1. Citra Foto
Citra foto adalah  gambaran suatu objek yang dibuat dari pesawat  udara, dengan  menggunakan kamera  udara  sebagai  alat pemotret. Hasilnya dikenal dengan  istilah foto udara. Citra foto dapat dibedakan menurut beberapa aspek, antara  lain sebagai berikut.

a.   Berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan
Berdasarkan spektrum  elektromagnetik yang digunakan,  citra foto dapat dibedakan  menjadi 3, yaitu:
1)  Foto Ultraviolet
Foto Ultraviolet adalah  foto yang dibuat dengan  menggunakan spektrum ultraviolet dekat dengan  panjang  gelombang  0,29 mikrometer. Cirinya adalah mudah untuk mengenali  beberapa objek karena  perbedaan warna yang sangat kontras. Kelemahan  dari citra foto ini adalah tidak banyak informasi yang dapat disadap.  Foto  ini sangat  baik untuk  mendeteksi  tumpahan minyak  di laut, membedakan atap  logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan  kapur, juga untuk mengetahui, mendeteksi,  dan memantau sumber  daya air.
2)  Foto Ortokromatik
Foto Ortokromatik adalah foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Cirinya banyak  objek yang bisa tampak  jelas. Foto  ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap objek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20  meter.
3)  Foto Pankromatrik
Foto pankromatrik adalah foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata  manusia.  Pada  umumnya  digunakan  film sebagai  negatif dan kertas  sebagai  positifnya.  Wujudnya seperti  pada  foto,  tetapi  bersifat tembus cahaya.  Foto pankromatik dibedakan menjadi 2 yaitu pankromatik hitam putih dan foto infra merah.
a)    Foto Pankromatrik Hitam Putih
rona  pada  objek  serupa  dengan  warna  pada  objek  aslinya,  karena kepekaan film sama dengan   kepekaan mata  manusia,
resolusi spasialnya  halus,
stabilitas dimensional  tinggi, dan
foto pankromatrik hitam putih telah lama dikembangkan sehingga  orang telah terbiasa menggunakannya.
Foto Pankromatrik digunakan dalam berbagai bidang, sebagai berikut.
Di bidang pertanian, untuk pengenalan dan klasifikasi jenis tanaman, evaluasi kondisi tanaman, dan perkiraan  jumlah produksi tanaman,
Di bidang  kehutanan, digunakan  untuk  identifikasi  jenis  pohon, perkiraan  volume kayu, dan perkembangan luas hutan,
 Di bidang sumber  daya air, digunakan  untuk mendeteksi  pencemaran air, evaluasi kerusakan akibat banjir, agihan air tanah,  dan air permukaan,
Di bidang perencanaan kota dan wilayah, digunakan untuk penafsiran jumlah dan agihan penduduk,  studi lalu lintas, studi kualitas perumahan, penentuan jalur transportasi, dan pemilihan  letak berbagai  bangunan penting,
Penelitian  ekologi hewan  liar, berguna  untuk mendeteksi  habitat  dan untuk pencacahan jumlah populasinya, dan
 Evaluasi dampak  lingkungan.
b)    Foto Infra Merah
Foto infra merah adalah foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum  infra  merah  dekat,  dengan   panjang  gelombang   0,9  – 1,2 mikrometer, yang dibuat secara  khusus yang terletak pada  saluran merah dan  sebagian  saluran  hijau. Cirinya dapat  mencapai bagian  dalam  daun, sehingga  rona  pada  foto infra merah  daun  tidak ditentukan  berdasarkan warna tetapi  oleh sifat jaringannya.
Perbedaan antara foto infra merah dengan film pankromatik hitam putih terletak pada kepekaannya.
Foto infra merah mempunyai  beberapa keunggulan,  antara  lain:
Mempunyai  sifat pantulan  khusus bagi vegetasi,
Daya tembusnya  yang besar terhadap kabut tipis, dan
Daya serap yang besar terhadap air.
Kelemahan  foto infra merah antara lain:
Adanya  efek bayangan  gelap  karena  saluran  infra merah  dekat  tidak peka terhadap sinar baur dan sinar yang dipolarisasikan,
Sifat tembusnya  kecil terhadap air, dan
Kecepatan yang rendah  dalam pemotretan.
Infra merah  berwarna  mempunyai  keunggulan  pada  warnanya  yang tidak serupa  dengan  warna aslinya. Dengan  warna semu itu banyak objek pada  foto ini menjadi mudah  dikenali.
Foto  inframerah  berwarna  banyak  digunakan  dalam bidang:
Kemiliteran,  untuk mengetahui kondisi suatu hutan,  karena tanaman tidak  akan  terpantulkan melainkan objek yang ada disekitarnya;
Bidang  pertanian dan  kehutanan, yaitu untuk mendeteksi atau membedakan tanaman yang sehat dan tanaman yang terserang  penyakit;
 b.  Berdasarkan  Arah Sumbu Kamera ke  Permukaan Bumi
Berdasarkan arah  sumbu  kamera  ke permukaan bumi,  citra  foto  dapat dibedakan  menjadi 2, yaitu foto vertikal (tegak) dan foto condong  (miring).
 Foto  vertikal atau  foto  tegak  (orto  photograph), yaitu foto  yang  dibuat dengan  sumbu kamera  tegak lurus terhadap permukaan bumi.
Foto  condong  atau  miring  (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi.  Sudut  ini umumnya  sebesar  10 derajat atau  lebih besar,  tetapi  bila sudut condongnya masih berkisar antara  1 – 4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan  sebagai foto vertikal.
Foto condong dibedakan menjadi menjadi dua, sebagai berikut.
Foto  agak  condong   (low oblique photograph), yaitu apabila pada foto tampak  cakrawalanya.
 Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada  foto.
c.    Berdasarkan Jenis Kamera yang Digunakan
Berdasarkan jenis kamera  yang  digunakan,  citra  foto  dapat  dibedakan menjadi 2, yaitu foto tunggal dan foto jamak.
Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan  kamera  tunggal. Tiap daerah liputan foto hanya  tergambar satu lembar foto.
Foto  jamak,  yaitu beberapa foto  yang  dibuat  pada  saat  yang  sama  dan menggambarkan daerah  liputan yang sama.
d.  Berdasarkan Warna yang Digunakan
Berdasarkan warna yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi dua, yaitu foto berwarna  semu dan foto berwarna  asli.
 Foto  berwarna  semu  (false  color)  atau  foto  infra merah  berwarna.  Pada foto ini warna objek tidak sama dengan  warna foto. Misal, pada foto suatu vegetasi berwarna  merah  sedangkan  warna aslinya adalah hijau.
Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna.  Dalam foto berwarna  asli lebih mudah  penggunaannya karena  foto  yang  tergambar mirip dengan  objek aslinya.
e.   Berdasarkan Wahana yang Digunakan
Berdasarkan wahana  yang digunakan,  citra foto dapat  dibagi menjadi foto udara dan foto satelit.
 Foto udara,  yaitu foto yang dibuat dari pesawat/balon udara.
 Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibuat dari satelit.
2.  Citra Nonfoto
Citra nonfoto  adalah gambaran suatu objek yang diambil dari satelit dengan menggunakan sensor.  Hasilnya dikenal dengan  istilah foto satelit.
Citra nonfoto  dapat  dibedakan  sebagai berikut.

a.  Berdasarkan Spektrum Elektromagnetik
Berdasarkan spektrum  elektromagnetik  yang  digunakan,  citra  nonfoto dibedakan  menjadi 2 sebagai  berikut.
Citra  infra merah  termal,  yaitu citra yang  dibuat dengan  spektrum  infra merah  ther mal.  Pengindraan  pada  spektrum  ini berdasarkan  pada perbedaan suhu objek dan daya pancarnya pada  citra, tercermin  dengan adanya  perbedaan rona  atau warnanya.
Citra  radar  dan  citra  gelombang  mikro,  yaitu citra  yang  dibuat  dengan spektrum  gelombang  mikro.  Citra  radar  merupakan hasil pengindraan dengan  sistem aktif yaitu dengan  sumber tenaga  buatan.  Citra gelombang mikro dihasilkan dengan  sistem pasif yaitu dengan  menggunakan sumber tenaga  alamiah.
 b.  Berdasarkan Sensor yang Digunakan
Berdasarkan sensor  yang digunakan,  citra nonfoto  dibedakan  menjadi 2, sebagai  berikut.
Citra tunggal, yaitu citra yang dibuat dengan  sensor tunggal.
Citra multispektral,  yaitu citra yang dibuat dengan  sensor  jamak.
 c.    Berdasarkan Wahana yang Digunakan
Berdasarkan wahana  yang digunakan,  citra nonfoto  dibedakan  menjadi 2, sebagai  berikut.
Citra dirgantara  (Airborne image), yaitu citra yang dibuat dengan  wahana yang beroperasi  di udara (dirgantara).
Contoh: citra infra merah thermal, citra radar, dan citra MSS.
Citra  satelit  (Satellite/Spaceborne Image),  yaitu citra  yang  dibuat  dari antariksa  atau angkasa  luar. Citra ini dibedakan  menurut  penggunaannya, sebagai  berikut.
Benda yang tergambar pada citra dapat dikenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor, yaitu sebagai berikut.
Ciri spasial, adalah ciri yang berkaitan dengan ruang, yang meliputi bentuk, ukuran, tekstur, pola, situs, bayangan, dan asosiasi.
Ciri spektral, adalah ciri yang dihasilkan oleh tenaga elektromagnetik dengan benda yang dinyatakan dengan rona dan warna. Rona adalah tingkat kehitaman atau keabuan suatu gambar objek pada citra. Benda yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga, maka rona pada citra berwarna asli tampak cerah.
Ciri temporal, adalah ciri yang terkait dengan umur dan waktu benda pada saat perekaman, misalnya rekaman sungai musim hujan tampak cerah, sedang pada musim kemarau tampak gelap.
a)      Citra Satelit untuk pengindraan planet. Contoh Citra Satelit Viking (AS), Citra Satelit Venera  (Rusia).
b)      Citra Satelit untuk pengindraan cuaca.  Contoh  NOAA (AS) dan Citra Meteor  (Rusia).
c)       Citra  Satelit  untuk  pengindraan sumber  daya  bumi.  Contoh   Citra Landsat  (AS), Citra Soyuz (Rusia), dan Citra SPOT  (Perancis).
d)      Citra  Satelit  untuk  pengindraan laut.  Contoh  Citra  Seasat  (AS) dan Citra  MOS (Jepang).

Perbedaan citra foto dan citra nonfoto
Variabel pembeda/jenis citra
Citra foto
Citra nonfoto
Sensor
Kamera
Nonkamera, berdasarkan
penyiaman (scanning). Kamera  yang detektornya bukan film
Detektor
Film
Pita magnetik, termistor, foto konduktif, foto voltaik, dan sebagainya
Proses perekaman
Fotografi/
kimiawi
Elektronik
Mekanisme perekaman
Serentak
Parsial
Spektrum elektromagnetik
Spektrum tampak
Spektra  tampak  dan  perluasannya, termal dan gelombang  mikro

Benda  yang  tergambar pada  citra  dapat  dikenali berdasarkan ciri yang terekam  oleh sensor,  yaitu sebagai berikut.
Ciri spasial, adalah ciri yang berkaitan dengan ruang, yang meliputi bentuk, ukuran,  tekstur,  pola, situs, bayangan, dan asosiasi.
 Ciri spektral, adalah ciri yang dihasilkan oleh tenaga elektromagnetik dengan benda yang dinyatakan dengan rona dan warna. Rona adalah tingkat kehitaman  atau keabuan suatu gambar objek pada citra. Benda yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga,  maka rona pada  citra berwarna asli tampak  cerah.
Ciri temporal, adalah ciri yang terkait dengan  umur dan waktu benda pada saat  perekaman, misalnya  rekaman  sungai  musim  hujan  tampak  cerah, sedang  pada  musim kemarau  tampak  gelap. 
Berdasarkan tingkatan resolusinya citra satelit dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1) Citra resolusi rendah, memiliki resolusi spasial antara 15 m s/d 30 m (Citra satelit Landsat-5 TM) Contoh Gambar :  



2) Citra resolusi sedang, memiliki resolusi spasial 2.5 m s/d 10 m (Citra satelit SPOT)  Contoh gambar : 



Citra resolusi tinggi, memiliki resolusi spasial 0.6 m s/d 1 m (Citra satelit Ikonos dan Quickbird) Contoh gambar :





 Terimakasih...udah mampir. Semoga bermanfaat...

Daftar Pustaka :
Afdal, Muh.2013. Resolusi Citra pada Penginderaan Jarak Jauh. http://afdalbaba.blogspot.co.id/2013/06/resolusi-citra-pada-penginderaan-jarak.html. Diakses tanggal 02 Oktober 2016. Pukul 22.00 WIB.
Casanova, Arief.2015.Sejarah Perkembangan Pengindraan Jauh. https://ariefcasanova.wordpress.com/2015/03/23/sejarah-perkembangan-pengindraan-jauh/. Di akses pada tanggal 02 Oktober 2016. Pukul 22.02 WIB.
Kusumowidagdo, Mulyadi dkk. 2008. Pengindraan Jauh Dan Interpretasi Citra. Semarang: Universitas Negeri Semarang dan LAPAN


Minggu, 25 September 2016

Kuis 3 Penginderaan Jauh


Nama   : Khalimah
NPM     : E1I015071
Prodi    : Ilmu Kelautan
Kelas    : B
Dosen  : Yar Johan, S.Pi.,M.Si


Apakah pengertian penginderaan jauh?
Jawab :
Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain. Contoh dari penginderaan jauh antara lain satelit pengamatan bumi, satelit cuaca, memonitor janin dengan ultrasonik dan wahana luar angkasa yang memantau planet dari orbit.Pada masa modern, istilah penginderaan jauh mengacu kepada teknik yang melibatkan instrumen di pesawat atau pesawat luar angkasa dan dibedakan dengan penginderaan lainnya seperti penginderaan medis atau fotogrametri. Walaupun semua hal yang berhubungan dengan astronomi sebenarnya adalah penerapan dari penginderaan jauh (faktanya merupakan penginderaan jauh yang intensif), istilah "penginderaan jauh" umumnya lebih kepada yang berhubungan dengan teresterial dan pengamatan cuaca.

pengertian penginderaan jauh menurut para ahli, yaitu :

American Society of Photogrammetry 
Penginderaan jauh merupakan pengukuran atau perolehan informasi dari beberapa sifat objek atau fenomena, dengan menggunakan alat perekam yang secara fisik tidak terjadi kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji.

Avery 
Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian.

Campbell 
Penginderaan jauh adalah ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh.

Colwell 
Penginderaaan Jauh yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas atau jauh dari objek yang diindera.

Apakah manfaat penginderaan jauh?
Jawab :

Bidang Kelautan (Seasat, MOS)
·         Pengamatan sifat fisis air laut.
·         Pengamatan pasang surut air laut dan gelombang laut.
·         Pemetaan perubahan pantai, abrasi, sedimentasi, dan lain-lain.
·         Bidang hidrologi (Landsat, SPOT)
·         Pemanfaatan daerah aliran sungai (DAS) dan konservasi sungai.
·         Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.
·         Pemanfaatan luas daerah dan intensitas banjir.

Bidang geologi
·         Menentukan struktur geologi dan macamnya.
·         Pemantauan daerah bencana (gempa, kebakaran) dan pemantauan debu vulkanik.
·         Pemantauan distribusi sumber daya alam.
·         Pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.
·         Pemanfaatan di bidang pertahanan dan militer.
·         Pemantauan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan aplikasisistem informasi geografi (SIG).

Bidang meteorologi dan klimatologi (NOAA)
·         Membantu analisis cuaca dengan menentukan daerah tekanan rendah dan daerah bertekanan tinggi, daerah hujan, dan badai siklon.
·         Mengetahui sistem atau pola angin permukaan.
·         Permodelan meteorologi dan data klimatologi.
·         Untuk pengamatan iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat kewarnaan dan kandungan air di udara.

Bidang oseanografi
·         Pengamatan sifat fisis air seperti suhu, warna, kadar garam dan arus laut.
·         Pengamatan pasang srut dengan gelombang laut (tinggi, frekuensi, arah).
·         Mencari distribusi suhu permukaan.
·         Studi perubahan pasir pantai akibat erosi dan sedimentasi

Berikut ini adalah beberapa alat penginderaan jauh berserta fungsinya

1. Active Microwave Instrument (AMI)

AMI mampu menghasilkan citra (gambar rekaman suatu objek) dataran dan lautan, dapat pula menentukan arah gelombang samudera, serta mengukur arah dan kecepatan angin.


2. Radar Altimeter (RA)
Jenis sensor ini mampu mengukur tinggi muka laut, tinggi gelombang, dan topografi bawah laut. Radar adalah Radio Detection and Ranging.



3. Along Track Scanning Radiometer and Microwave
Sounder (ATRS) ATRS merupakan gabungan antara sensor inframerah dan gelombang mikro yang fungsinya untuk mengukur temperatur permukaan laut, mengukur temperatur tebal tutupan awan, serta mengukur kelembapan awan.


4. Precise Range and Range-Rate Equipment (PRARE)
PRARE dapat menentukan posisi satelit paling tepat terhadap lokasi stasiun di muka bumi.

5. Laser Retro-Reflector (LRR)

LRR digunakan untuk menentukan posisi satelit yang tepat beserta orbitnya dengan lokasi di bumi melalui stasiun-stasiun laser.






Daftar Pustaka :



Nicolas.2013.Manfaat Inderaja.http://penginderaanjarakjauh1.blogspot.co.id/2013/02/manfaat-inderaja.html. Diakses tanggal 25 September 2016. Pukul 17.05 WIB.


Lillesland, Thomas. M dan Ralph W. Kiefer. 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Sutanto. 1979. Pengetahuan Dasar Interpretasi Citra. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.